Mitos, etos, pesugihan dan interaksi antar penggolongan sosio-religiusitas di kalangan para peziarah

Mitos, etos, pesugihan dan interaksi antar penggolongan sosio-religiusitas di kalangan para peziarah

  1. Muslim Kejawen abangan : Mitos, Etos, dan Pesugihan

Kehadiran para peziarah ke wisata ritual Gunung Kawi, secara umum adalah menjalankan laku ritual dengan berbagai maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Menurut Bapak Jenggo—pemandu wisata ritual Gunung Kawi–  dalam salah satu wawancara diperoleh penjelasan sebagai berikut:

“Hampir semua peziarah yang datang ke wisata ritual ini tidak hanya mengarah kepada satu tujuan tunggal. Tidak jarang dari sebagian peziarah yang memiliki multi tujuan.

Adapun multi tujuan itu antara lain adalah adakalanya yang ingin mendapatkan jiwanya awet muda, dekat jodoh dan lancar semua urusan rizqinya. Semua do’a dan niatnya ditujuan ke leluhur yang membuka tempat tersebut, yaitu Eyang Raden Mas Kyai Zakaria II ( Eyang Djoego) dan  Eyang Raden Mas Iman Soedjono”.

Sementara itu menurut pandangan tokoh adat, Warsi’i, kehadiran mereka ke wisata ritual Gunung Kawi secara lebih substansial tidak dimaksudkan dengan sederet tujuan yang beragam itu. Namun demikian menurut Warsi’i –tokoh adat tersebut–kehadiran mereka memang ditujukan melakukan laku ritualitas dengan harapan memperoleh ketenangan jiwanya.

Ketenangan jiwa, menurut Tokoh Adat tersebut merupakan kata kunci yang merepresentasi seluruh tujuan yang diniatkan oleh para peziarah. Orang akan lancar rizkinya menurut Warsi’i, jika jiwanya diberi ketenangan oleh Allah, orang akan semangat etosnya jika jiwanya tenang, orang akan bisa dengan lancar membangun pola komunikasi dengan koleganya jika jiwanya diberi ketenangan.

Dalam salah satu wawancara, Warsi’i menjelaskan sebagai berikut:

“Keyakinan terhadap arwah leluhur yang memiliki sumber kekuatan  mitos itu penting, sebab keyakinan mitos itu bisa menjadi sebab hati kamu tenang. Jika ketenangan itu sudah dicapai, insya Allah, rizqi itu mudah, artinya kekayaan itu akan datang dengan sendirinya. Karena itu keyakinan para peziarah itu kalau bisa harus ditata sebaik-baiknya. Sebab jika keyakinan mitos terhadap kedua tokoh tersebut sudah benar, saya sangat optimis terhadap apa saja yang dikehendaki oleh peziarah itu akan terkabulkan semuanya. Hal itu bagi saya yang lebih utama.  Hanya saja jika kita menggunakan do’a, insya Allah jatah rizki manusia itu bisa dimohon kembali, dengan sarat percaya yang sebenar-benarnya percaya.”

 “Barang siapa yang dekat dengan kekasih Allah, maka berarti ia juga dekat dengan Allah. Barang siapa yang cinta kepada kekasih Allah maka ia juga dicintai oleh Allah.”

Menjadi Landasan Teologis Peziarah

Ungkapan inilah yang menjadi landasan teologis para peziarah, sekaligus melandasi seluruh gerak dan aktifitas mereka. Keyakinan religiositas mereka, dengan pendekatan islam kejawen itu, diyakini sebagai kebenaran empiris sekaligus kebenaran normatif. Secara empiris perilaku religiositas mereka tidak bisa dipisahkan dengan konteks tradisi lokal setempat maupun isu-isu mitis yang ada. Demikian juga secara normative, pemahaman yang dilakukan oleh para tokoh di atas tidak pula lepas dari aturan teks, baik teks suci tertulis maupun teks lesan. Perpaduan dari teks dan konteks itulah menurut mereka diakui sebagai model pemahaman keagamaan yang ramah.

Cara pandang ini pulalah yang melandasi praktik ritual di Wisata ritual Gunung Kawi itu. Dengan demikian, menurut mereka laku ritual tersebut tidak dianggap sebagai perilaku shirik, karena tujuan semua permohonan tetap tertuju kepada dzat yang maha kuasa (Alam), sementara Kyai Raden Mas Zakaria II (mbah Djoego) dan mbah Raden Mas Iman Soedjono adalah sebagai perantara yang menghubungkan lebih jauh tentang cita-cita maupun niat para peziarah.

Karena dinilai bahwa dua tokoh yang dimitoskan itu dalam keyakinan para peziarah betul-betul dianggap sebagai hamba yang dekat kepada-Nya, Apalagi keduanya dianggap sebagai hamba yang memiliki kepedulian mengembangkan ajaran Islam sekalipun harus berhadapan dengan kompeni Belanda.  Selain kelebihan di atas, ia juga sebagai hamba yang memiliki kelebihan spiritualitas di atas rata-rata layaknya hamba yang lain.

Keyakinan ini tidak hanya terbatas pada wilayah imani yang bersifat transendental, melainkan juga pada wilayah dhahiri, yaitu indrawi. Indikasi secara indrawi terlihat jelas pada perkembangan para peziarah yang tidak pernah mengalami surut dengan ragam tujuan dan keinginannya. Hal ini membuktikan bahwa aura suci makam wisata ritual Gunung Kawi masih menampakkan eksistensinya bagi para peziarah.

 170 total views,  2 views today