Mengapa orang melakukan ritual pesugihan

Mengapa orang melakukan ritual pesugihan

Ya, pesugihan membuat orang menghalalkan berbagai cara. Dengan dalih menjalankan ritual, mereka abai pada norma dan melakukan hal tak lazim, aneh, bahkan di luar nalar. Berikut penjelasannya.Pesugihan berasal dari Bahasa Jawa sugih yang artinya kaya. Semakin hari, maknanya bergeser.

 Yakni jalan pintas untuk memperoleh kekayaan, kejayaan atau popularitas, dengan cara sesat. Pesugihan Gunung Kemukus misalnya. Patrick Abboud dari SBS Australia dan Rosy Edwards dari media Inggris sama-sama menyorotinya sebagai ritual intrik, dengan dalih menjalankan ritual religi demi memperoleh ilmu penglaris dengan mengatasnamakan seks.

Keduanya juga mengkritisi pelaku dan budaya dalam ritual tersebut yang dianggap tak lazim.Betul saja. Pada tahun 2016, lima mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada menemukan fakta bahwa wacana tentang ritual seks sengaja diciptakan oknum tertentu guna mendongkrak bisnis prostitusi.

Tak hanya di Kemukus, Pesugihan Nyi Blorong di Pantai Selatan juga melakukan ritual khusus yang disebut Cawis Sesaji, pun ritual seks di Gunung Kapur, Bogor, dengan bersemedi dan bersetubuh di hutan lebat. Ada pula mitos yang hidup di Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur. Masyarakat percaya, jika seseorang tirakat di bawah pohon dewandaru dan kejatuhan daunnya, maka ia akan kaya raya.

Umumnya pesugihan diwujudkan bersyarat tumbal. Rupanya beragam, hingga bertaruh nyawa. Seorang lelaki di Jambi pernah mengungkap sejumlah penyadap karet menjalani ritual mistis agar getah karet melimpah. Ia mengatakan, semakin besar keinginan, maka semakin besar pula tumbal yang harus dipenuhi.

Bahkan, ada yang melakukan pesugihan menggunakan perantara. Misalnya lewat benda pusaka seperti keris, babi ngepet hingga jenglot. Dari sini bisa dilihat, dunia pesugihan sulit diterima nalar. Pesugihan tak ubahnya mitos dan folklor yang bergeser, ditambah sisipan mistis yang masih kental berlaku.Sebagaimana keberadaan agama yang hanya bisa dijelaskan lewat kepercayaan, demikian halnya persoalan mistis di balik pesugihan. Hasil dan keberadaannya riil, tapi lewat cara mistis. Kebenarannya jelas bias.

Mengapa orang melakukan ritual pesugihan?

Demi cepat melancarkan usaha, melunasi hutang, atau lekas kaya, itu segelintir jawaban mudahnya. Di sisi lain, masyarakat Indonesia juga masih percaya takhayul dan mitos sehingga rentan menjalankan pesugihan ketika kondisinya tertekan. Ada alasan untuk ini.

Pertama, proses perubahan nilai dari masyarakat tradisional menuju modern di Indonesia belum selesai. Sebagaimana kata psikolog evolusioner Satoshi Kanazawa, perilaku manusia akan selalu berlabuh di lingkungan di mana nenek moyang mereka berkembang.

Kedua, pendidikan yang kurang tinggi alias kurang lama, sebab pendidikan formal saja belum cukup. Pakar dongeng asal Inggris, Gillian Bennett pernah menemukan, pertambahan usia pada perempuan dapat menyebabkan keyakinan yang lebih besar terhadap dunia supranatural.

Riset pada pekerja di New York juga menyebutkan bahwa pada banyak kasus, profesor lebih skeptis daripada siswa, sedangkan mahasiswa punya tingkat kepercayaan supranatural yang sama dengan masyarakat umum.

Ketiga, hilangnya kepercayaan dan pengendalian diri. Riset yang dipublikasikan di The Psychological Science menemukan bahwa orang cenderung percaya pada tanda-tanda mistik dan mulai melakukan ritual tertentu, ketika menyalahkan dirinya akibat nasib buruk–misalnya terlilit hutang.

Sebagai upaya mengubah nasib, mereka mencari hubungan yang tidak ada antara kejadian-kejadian dalam kehidupannya.

Keempat, sebagai alat mengidentifikasi diri untuk menemukan nilai sosial. Ditelisik dari sisi antropologi dan psikologi, orang melakukan ritual untuk menyisihkan penanda sosial.

Mereka menunjukkan keberadaan dirinya yang sejajar dengan orang lain, lewat nilai budaya yang diyakini sesuai konsekuensi tindakan yang diinginkan lekas kaya. Sebab ia pesugih sedang butuh bantuan untuk memperoleh kekuatan.

Kelima, orang cenderung mudah dibohongi sehingga begitu saja percaya mitos jika dianggap sesuai dengan harapan. Mengapa? Karena selalu mengedepankan perasaan “yang itu terasa benar” ketimbang berlogika, lebih percaya intuisi dibanding analisis–menghindari repot berpikir.

Manusia juga cenderung lebih percaya keterangan orang yang dikenal saat menyaring informasi sehingga meyakininya sebagai kebenaran, lebih memilih ide yang menarik dan mudah dipahami ketimbang yang sulit, dan terus mengulang-ulang dalam pikiran hal yang awalnya tidak dipercaya sampai akhirnya membenarkan.

Terakhir, obsesi. Budaya mungkin bisa bertahan, belum tentu masyarakatnya. Demikian halnya kapitalisme. Orang yang hidup dalam masyarakat kapitalis terbiasa percaya bahwa banyak uang menuai banyak manfaat, termasuk kebahagiaan. Alhasil untuk mencapai tujuan, pesugihan dilakukan, dengan meyakinkan diri bahwa keputusan yang dibuat sudah tepat.

 242 total views,  2 views today